THOUSANDS OF FREE BLOGGER TEMPLATES ?

Jumat, 16 April 2010

pulau yang hilang


Ditemukan Pulau Kediaman Odysseus Yang Hilang 3000 tahun Lalu
Hampir selama 3000 tahun lokasi pulau ini menjadi sebuah misteri, namun para sarjana ilmu klasik dari seluruh dunia saat ini sedang menyakinkan seorang pengusaha berkebangsaan Inggris dan arkeolog amatir dengan yang sangat mengagumi Homer, bahwa pulau Ithaca yang merupakan tempat tinggal pahlawan Yunani Odysseus dan istananya telah diketemukan. Banyak yang berpikir bahwa pulau ini ada hanya dalam imajinasi penyair Yunani Homer dalam epiknya yang berjudul Odyssey. Tentu saja apa yang Homer gambarkan tidak sesuai dengan pulau Ionian yang sekarang disebut Ithaca, namun setelah mengikuti sebuah jalur penyelidikan petunjuk-petunjuk literatur, geologis dan arkeologis, para sarjana yang dikepalai oleh Robert Bittlestone seorang konsultan manajemen, telah mengindentifikasikan Paliki, sebuah daerah Cephalonia, adalah tempatnya.

James Diggle, seorang professor di bidang Yunani dan Latin dari Universitas Cambridge dan seorang rekan penulisnya yang menulis penemuan ini, mengatakan bahwa hampir seluruh 26 lokasiyang Homer gambarkan secara detail dapat ditemukan di sebelah utara Paliki dan daerah sekitarnya. Topografi pulau yang digambarkan Homer sesuai dengan daerah yang �seperti sarung tangan�, katanya.

Paliki dahulu adalah sebuah pulau tersendiri. Sejak hari yang digambarkan Homer, gempa bumi menggerakkan secara besar-besaran longsoran tanah yang memenuhi sebuah selat sempit sehingga menghubungkannya dengan pulau Same � saat ini Cephalonia.

Professor Diggle mengatakan : �Selama 3200 tahun setelah peristiwa yang digambarkan dalam epik Odyssey, Ithaca kuno akhirnya dapat ditemukan � sebuah penemuan yang akan merombak dengan cepat pemahaman kita akan sejarah nenek moyang dan lebih memahami secara mendalam pengetahuan kita akan asal usul peradaban barat.�

Sajak epik Homer, Iliad dan Odyssey termasuk buku tertua didunia literatur barat. Mereka menggambarkan perang Trojan dan Kembalinya Odyssey - yang menemukan taktik kuda kayu dan membantu menaklukan Trojan � Ke Istananya di Ithaca. Menurut perhitungan Homer perhitungan ini terjadi sekitar 1200 Sebelum Masehi yang diilhami oleh para filosofi : Plato, Aristotle dan Socrates, juga pembentukan cendikiawan serta perkembangan kebudayaan Yunani.

Pada mulanya Troy juga dikira adalah sebuah cerita fiksi sampai tahun 1870, saat itu Heinrich Schliemann memimpin penggalian di daerah barat laut Turki yang membawanya kepada penemuan kota kuno yang telah lama terkubur, kota emas Troy. Para sarjana dan arkeologi telah dibingungkan oleh penjelasan Homer mengenai Ithaca :�Disekelilingnya ada banyak pulau yang saling berdekatan satu dengan yang lain, Doulichion dan Same juga pepohonan Zacynthos/ Ithaca sendiri terletak dibawah, diujung laut / menjelang petang (maksudnya Barat) ; sisanya, terpisah, menghadap pagi dan mentari (maksudnya Timur)

Ithaca sekarang ini terletak di sebelah timur pulau lainnya, bukan di barat, dan tidak berada dibawah akan tetapi dipegunungan. Oleh karena itu para sarjana menjadi gelisah dan menyimpulkan bahwa Ithaca pasti berasal dari imajinasi puitis.

Namun bagaimanapun juga, setelah penjelajahan daerah di bagian barat Yunani dan berdasarkan analisa data komputer terhadap literature, geologis dan arkeologi, serta penggunaan teknologi penggambaran satelit yang paling canggih dan teknik visualisasi keseluruhan 3 dimensi yang dikembangkan NASA, Mr. Bittlestone menemukan 70 petunjuk yang mengarah ke Caphalonia. Para penyelidik menyakinkan kepada pemimpin akademis seluruh dunia, termasuk John Underhill, seorang Professor Stratigraphy dari Universitas Edinburg, yang saat ini menjadi rekan penulis buku bersama Professor Diggle dan Mr. Bittlestone.

Penemuan mereka ini akan dipublikasikan oleh Pers Universitas Cambridge pada tanggal 6 Oktober dalam tema Odysseus Yang Tak Terjilid : Pencarian Ithaca-nya Homer.

Selasa, 13 April 2010

SERANGAN UMUM 1 MARET


Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap kota Yogyakarta dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto dengan tujuan utama untuk mematahkan moral pasukan Belanda serta membuktikan pada dunia internasional bahwa Tentara Nasional Indonesia (TNI) masih mempunyai kekuatan untuk mengadakan perlawanan.

Kurang lebih satu bulan setelah Agresi Militer Belanda II yang dilancarkan pada bulan Desember 1949, TNI mulai menyusun strategi guna melakukan pukulan balik terhadap tentara Belanda yang dimulai dengan memutuskan telepon, merusak jalan kereta api, menyerang konvoi Belanda, serta tindakan sabotase lainnya.

Belanda terpaksa memperbanyak pos-pos disepanjang jalan-jalan besar yang menghubungkan kota-kota yang telah diduduki. Hal ini berarti kekuatan pasukan Belanda tersebar pada pos-pos kecil diseluruh daerah republik yang kini merupakan medan gerilya. Dalam keadaaan pasukan Belanda yang sudah terpencar-pencar, mulailah TNI melakukan serangan terhadap Belanda. Puncak serangan dilakukan dengan seangan umum terhadap kota Yogyakarta (ibu kota negara) pada tanggal 1 Maret 1949, dibawah pimpinan Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Serangan dilakukan pada kurang lebih pukul 06.00.

Pos komando ditempatkan di desa Muto. Pada malam hari menjelang serangan umum itu, pasukan telah merayap mendekati kota dan dalam jumlah kecil mulai disusupkan ke dalam kota. Pagi hari sekitar pukul 06.00, sewaktu sirene dibunyikan serangan segera dilancarkan ke segala penjuru kota. Dalam penyerangan ini Letkol Soeharto langsung memimpin pasukan dari sektor barat sampai ke batas Malioboro. Sektor barat dipimpin Ventje Sumual, sektor selatan dan timur dipimpim Mayor Sardjono, sektor utara oleh Mayor Kusno. Sedangkan untuk sektor kota sendiri ditunjuk Letnan Amir Murtono dan Letnan Masduki sebagai pimpinan. TNI berhasil menduduki kota Yogyakarta selama 6 jam. Tepat pukul 12.00 siang, sebagaimana yang telah ditentukan semula pasukan TNI mengundurkan diri.

Sabtu, 10 April 2010

yogyakarta berhati nyaman


Minggu yang lalu saya bercerita (lewat email) kepada teman saya Juli & Leny, lagi kangen nih sama Yogya. Entah kenapa akhir2 ini teringat terus. Beberapa tahun tinggal di sana, banyak sekali kenangan2 yg sulit untuk dilupakan.

Dulu saya dan teman2 sering pergi ke Malioboro. Biasanya kita akan mulai dari sekitar Malioboro Mall, kemudian menyusuri jalan Malioboro yg dipenuhi pedagang kaki lima hingga hampir sampai ke ujung, dekat pasar Bringhardjo. Dekat pasar Bringhardjo ada toko yg khusus menjual oleh2 khas Yogya (Toko Gemah Ripah?). Saya suka beli bakpia (kumbu hitam) disana. Berkali2 saya pergi ke Malioboro... kadang2 ikut berdesakan dengan turis2 pada musim liburan, menyusuri jalan yg sama tanpa pernah bosan.

Satu saat setelah capek berkeliling, saya & teman2 sepakat untuk pulang ke kos naik delman. Sepanjang jalan kita ngobrol sama pak kusir sambil senyum2, serasa jadi turis. Begitu sampai di kos beberapa teman yg kebetulan duduk2 di ruang tamu sambil menunggu abang2 tukang jualan tertawa ngakak. Wooooi…kirain sapa... tamu dari mana pula ini naik delman. Ternyata…iseng bener sih. Tetangga di sekitar kos juga ikut melihat, duh...
Beberapa kali kita pergi makan jagung bakar, burger atau melihat sekatenan. Lain waktu kita pergi ke Pantai Parangtritis. Semua teman 1 kos pergi tanpa terkecuali. Kos2an dikunci dan ditinggalkan kosong. Kita pergi beramai2, naik motor beriringan. Teman2 yg tidak punya motor bisa nebeng atau sengaja pinjam motor dari teman/saudara. Kadang2 pada saat ada yg lagi ulang tahun, kita makan bersama di kos2an bersama Ibu Kos. Ibu Kos saya adalah pensiunan ABRI yg sangat ketat dan disiplin dalam peraturan di kos tapi juga sangat lembut pada anak2 kos-nya.

Di Yogya dan sekitarnya banyak tempat wisata yg bisa didatangi dengan biaya cukup terjangkau untuk ukuran mahasiswa. Jaraknya juga tdk terlalu jauh. Candi Borobudur, Prambanan, Kaliurang - Merapi, Bonbin Gembira Loka, Keraton Yogya, Tamansari, Paris (Pantai Parangtritis), Pantai Baron (bisa sekalian makan ikan bakar), Goa Cerme, Benteng Vredeburg, Kota Gede (daerah kerajinan perak), dll. Selain itu banyak kota2 yg berdekatan yg bisa dicapai tanpa harus terjebak macet. Klaten, Solo, Bantul, Magelang, Gunung Kidul adalah beberapa kota di sekitar Yogya yg sempat saya kunjungi. Dari Gunung Kidul kita bisa memandang kota Yogya di kejauhan. Indah sekali waktu senja, pada saat lampu2 sudah dinyalakan.

Selain tempat wisata yang murah, meriah, dekat pula, di Yogya juga banyak tempat makan yg murah meriah buat kantong mahasiswa. Paling tidak murah meriah untuk ukuran saat itu. Beberapa tempat yg masih saya ingat adalah :
* Di Malioboro (samping Toko Ramai) : Pempek Palembang + es teh/es jeruk. Kalau malam banyak lesehan
* Di sepanjang pertokoan jalan Solo, lesehan : burung puyuh goreng. Kalau mau yg agak mahalan sedikit ada burung dara goreng. Yang murmer...nasi goreng pak Krebo. Masak nasinya pake kompor tradisional, pake arang
* Di Jl. Solo (dekat perempatan Gejayan) ada yg jual Sate Padang, kuahnya...mak, asli sate Padang. Ada juga Sate Samirono tapi saya lebih suka Sate Padang, gak ada tandingannya.
* Perempatan RS Bethesda & GKJ : Nasi goreng kambing & nasi goreng kepiting.
* Pecel lele atau pecel ayam gampang di cari (Jl. Langensari, sekitar UPN Babarsari).
* Jl. C. Simanjuntak : ayam goreng Ninit (tulang lunak).
* Kalau mau makan bakso... bakso pak Tembong (lupa tempatnya), bakso Cak Karno di Langensari, bakso di kantin RS. Bethesda. Tapi dengar2 bakso yg di RS. Bethesda ini pake daging B2.
* Di Demangan Kidul : RM Padang. Saking sukanya makan makanan Padang, kadang2 saya beli nasi Rendang disini beberapa hari berturut2 tanpa bosan. Bumbu rendangnya hitam & mantep banget, duh...
* Dekat RM Padang Demangan ada Bakmi Siantar yg rasanya juga ok.
* Warung makan murmer : Warung Saerah (sekitar Selokan Mataram, dekat Mirota Gejayan), Warung Pendowo Limo (sekitar Pengok)
* Walaupun Yogya terkenal dengan makanan khas-nya gudeg, entah kenapa sampai saat ini saya kurang suka gudeg.

Ada lagi yang lebih murah...warung nasi kucing/angkringan. Walaupun belum pernah nyobain, tapi beberapa teman saya bilang makanannya lumayan. Nasi, lauk (tempe dkk) serba sedikit (namanya jg nasi kucing), harganya pun sangat2 murah. Dulu teman2 sering bilang warung kentaki (kentara kaki-nya), karena orang yg makan di warung angkringan "nasi kucing" biasanya yg keliatan cuma kakinya, wajah tak terlalu jelas karena lampu penerangannya sangat sederhana, pake lampu minyak.

Kapan ya, bisa ke Yogya lagi? Beberapa teman saya bilang, Yogya sekarang sudah jauh berubah. Tidak lagi murah meriah seperti dulu. Tidak lagi seadem dulu. Tapi saya tetap ingin datang kembali ke sana... satu saat nanti.